Di puncak Gunung Nebo, sang pemimpin tua itu berdiri sendirian. Pandangannya menembus cakrawala, menatap hamparan subur Yerikho—tanah yang dijanjikan yang telah ia impikan sepanjang empat puluh tahun pengembaraan. Musa, dengan rambut memutih oleh waktu dan perjuangan, memahami bahwa perjalanannya telah sampai di ujung. Allah berfirman kepadanya dengan penuh kemuliaan:
قَالَ يٰمُوْسٰٓى اِنِّى اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسٰلٰتِيْ وَبِكَلَامِيْۖ فَخُذْ مَآ اٰتَيْتُكَ وَكُنْ مِّنَ الشّٰكِرِيْنَ ١٤٤
"Hai Musa, sesungguhnya Aku telah memilihmu atas manusia yang lain untuk membawa risalah-Ku dan firman-Ku, maka berpegangteguhlah pada apa yang Aku berikan kepadamu dan jadilah termasuk orang-orang yang bersyukur." (QS. Al-A’raf: 144)
Dalam detik-detik penghabisan, Musa teringat akan perjalanan spiritualnya yang panjang, termasuk momen di Gunung Thur di mana ia bermunajat selama empat puluh malam untuk menerima wahyu Ilahi. Namun, di balik keputusan Ilahi yang mencegahnya memasuki Tanah Perjanjian, tersimpan hikmah yang agung.
Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, suatu hari malaikat maut diutus kepada Nabi Musa dalam wujud manusia. Nabi Musa yang tidak mengenali sosok tersebut langsung memukulnya hingga mata malaikat itu terlepas. Malaikat maut pun kembali kepada Allah mengadukan kejadian itu:
فَقَالَ: إِنَّكَ أَرْسَلْتَنِي إِلَى عَبْدٍ لَكَ لَا يُرِيدُ الْمَوْتَ
"Engkau mengutusku kepada hamba yang tidak menghendaki kematian."
Allah kemudian mengembalikan mata malaikat tersebut dan berfirman:
"Kembalilah dan katakan kepadanya agar dia meletakkan tangannya di punggung seekor lembu jantan. Setiap bulu lembu yang ditutupi tangannya berarti umurnya satu tahun baginya."
Musa bertanya: "Wahai Tuhanku, setelah itu apa?"
Allah menjawab: "Kematian."
Musa pun berkata: "Kalau begitu, sekarang saja."
Berdasarkan penjelasan ulama dalam kitab Fathul Bari dan Syarh Shahih Muslim, terdapat beberapa hikmah di balik peristiwa ini:
1. Ujian Ilahi: Allah mengutus malaikat maut bukan untuk mencabut nyawa Musa saat itu, tetapi sebagai ujian baginya .
2. Ketidaktahuan Nabi Musa: Nabi Musa tidak mengetahui bahwa sosok yang datang adalah malaikat maut. Beliau mengira itu adalah manusia yang masuk ke rumahnya tanpa izin, sehingga ia membela diri .
3. Pilihan Hidup atau Mati: Para nabi diberikan hak untuk memilih antara hidup atau mati ketika ajal tiba. Nabi Musa memilih kematian setelah memahami bahwa hidup tambahan hanya menunda takdir .
Setelah peristiwa itu, Nabi Musa memohon kepada Allah:
"Ya Allah, dekatkanlah aku dengan tanah suci (Baitul Maqdis) hingga sampai sejauh lemparan batu saja."
Allah mengabulkan permohonannya, dan Nabi Musa wafat di lokasi yang dekat dengan Tanah Suci. Rasulullah ﷺ bersabda:
لو كُنْتُ ثَمَّتَ لَأرَيْتُكم موضِعَ قبرِه إلى جانبِ الطُّورِ تحتَ الكثيبِ الأحمرِ
"Seandainya aku berada di sana, niscaya akan kuperlihatkan kepadamu makam Musa yang terletak di tepi jalan merah, di dekat bukit pasir." (HR. Bukhari dan Muslim)
Berdasarkan Tafsir Ibnu Katsir, Allah menyembunyikan kuburan Musa untuk mencegah penyembahan berhala oleh Bani Israil, yang cenderung mengkultuskan para nabi .
Meskipun jasadnya terkubur dalam kesendirian, warisan spiritual Nabi Musa terus hidup. Yusha’ bin Nun—penerusnya yang setia—memimpin Bani Israil dengan keyakinan menyeberangi Sungai Yordan, mewujudkan mimpi yang telah dirintis oleh sang pemimpin. Allah mengabadikan kisah Musa sebagai teladan sepanjang masa:
وَاذْكُرْ فِى الْكِتٰبِ مُوْسٰٓىۖ اِنَّهٗ كَانَ مُخْلَصًا وَّكَانَ رَسُوْلًا نَّبِيًّا ٥١
"Dan ceritakanlah kisah Musa dalam Kitab (Al-Qur’an). Sesungguhnya dia adalah orang yang terpilih, seorang rasul dan nabi." (QS. Maryam: 51)
Doa Nabi Musapun abadi dalam firman-Nya:
رَبِّ اِنِّيْ لِمَآ اَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ ٢٤
"Musa berkata: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan segala kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku'." (QS. Al-Qasas: 24)
Pesan ini mengingatkan kita bahwa kebutuhan manusia akan petunjuk Ilahi tak pernah berubah, dari masa ke masa.
Refleksi Spiritual Kisah Musa
1. Ketaatan Mutlak pada Ketetapan Ilahi — Kisah Musa mengajarkan bahwa bahkan seorang nabi sekalibernya harus tunduk pada keputusan Allah, meskipun itu berarti mengubur impian terbesarnya .
2. Hikmah di Balik Misteri — Penyembunyian kuburan Musa bukanlah hukuman, tetapi bentuk kasih sayang Allah untuk melindungi umat dari kesyirikan .
3. Kepemimpinan Sejati — Musa meninggalkan warisan kepemimpinan yang tidak lekang oleh waktu, melalui Yusha’ bin Nun yang meneruskan perjuangannya.
4. Kematian yang Mulia — Musa wafat dalam keadaan beribadah, sebagaimana disaksikan Rasulullah dalam Isra’ Mi’raj, bahwa beliau terlihat tengah shalat, membuktikan bahwa kematian bukanlah akhir dari pengabdian .
لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ
"Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang yang mempunyai akal."
(QS. Yusuf: 111)
(Penyoe_Poenya) 🌿🐢📌🍁🎖
0 Komentar