"أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلَإِ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ..."
"Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil setelah Musa, ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, 'Angkatlah untuk kami seorang raja agar kami berperang di jalan Allah'..."*(QS. Al-Baqarah: 246).
***
Di antara reruntuhan sejarah Bani Israil pasca kepergian Nabi Musa AS dan Nabi Yusa' bin Nun, terhamparlah sebuah episode pilu tentang ambisi manusia yang rapuh. Mereka yang dahulu pernah menyaksikan mukjizat laut terbelah, batu terpancar air, Manna dan Salwa turun dari langit, kini tercerai-berai bagai domba tanpa gembala. Di bawah cengkeraman bangsa Palestina yang dipimpin oleh raksasa bernama Jalut (Goliath), mereka merindukan kejayaan masa lalu. Dalam keputusasaan, para pemuka kaum—orang-orang terpandang yang seharusnya menjadi penopang spiritual—justru mendatangi seorang nabi dengan permintaan yang terdengar mulia: "Angkatlah untuk kami seorang raja agar kami berperang di jalan Allah."
Namun, di balik permintaan itu tersembunyi ironi yang menusuk. Nabi mereka—yang dalam riwayat Ibnu Katsir disebut sebagai Nabi Samuel—menatap mereka dengan mata yang dapat melihat lubuk hati paling dalam. Darah para nabi mengalir dalam nadinya, memberinya kemampuan untuk mendengar bukan hanya kata-kata, tetapi juga niat yang terselubung. Dengan suara yang tenang namun penuh wibawa, ia bertanya: "Bukankah jika nanti kalian diwajibkan berperang, kalian justru melarikan diri?"
Mereka pun menyambutnya dengan sumpah yang berapi-api: "Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, sedangkan kami telah diusir dari rumah-rumah kami dan dipisahkan dari anak-anak kami?" Kata-kata itu menggema di udara bagikan heroisme palsu yang akan segera pecah seperti gelembung sabun. Ath-Thabari dalam tafsirnya mengisahkan bahwa Bani Israil saat itu bukanlah kaum yang siap berkorban; mereka hanya ingin memiliki seorang jenderal yang akan memenangkan perang untuk mereka tanpa perlu mengotakkan tangan sendiri.
Inilah tabiat manusia yang terus berulang sepanjang zaman: kita mudah bersumpah di saat lemah, namun lupa ketika keadaan membaik. Kita menuntut pemimpin yang sempurna, tetapi lupa bahwa kepemimpinan sejati adalah cermin dari pengikutnya. Kita berteriak lantang tentang prinsip, tetapi melarikan diri ketika harga harus dibayar. Permintaan mereka akan seorang raja bukanlah panggilan jihad, melainkan teriakan ketakutan yang dibungkus dengan jargon religius.
Dalam dunia modern, kita menyaksikan pola yang sama. Betapa banyak gerakan yang mengatasnamakan perubahan, tetapi berhenti pada hashtag dan spanduk. Betapa sering kita menuntut pemerintah membersihkan laut, sementara kita masih membuang sampah ke sungai. Kita mengharapkan pemimpin seperti superhero yang menyelesaikan semua masalah, tetapi enggan mengubah pola konsumsi atau gaya hidup kita sendiri. Ini bukan tentang kepemimpinan yang turun dari langit, melainkan tentang kemauan untuk bangkit dari lumpur ketergantungan.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa janji adalah cermin dari karakter, bukan sekadar alat retorika. Setiap kali kita menuntut sesuatu dari langit, langit akan bertanya: "Seberapa dalam komitmenmu?" Setiap kali kita memohon pertolongan, alam semesta akan menguji: "Apakah kau siap menerima konsekuensinya?" Bani Israil belajar dengan cara yang keras bahwa Allah tidak menjawab doa yang lahir dari kelemahan, tetapi doa yang disertai dengan kesiapan untuk berdiri tegak di medan laga.
Maka, sebelum kita menengadahkan tangan meminta perubahan, mungkin perlu kita tanyakan pada diri sendiri: Sudah siapkah kita menjadi bagian dari perubahan itu? Sudah siapkah kita meninggalkan zona nyaman, mengorbankan privilege, dan berjalan di jalan yang berdebu menuju medan perjuangan? Sebab, sejarah tidak ditulis oleh mereka yang hanya berteriak dari pinggiran lapangan, tetapi oleh mereka yang berani masuk ke dalam arena—dengan kaki yang berdarah dan hati yang tak pernah menyerah. Wallahu a'lam...
Bersambung ke Episode 2: "Raja Miskin yang Dianggap Tidak Layak: Ketika Allah Memilih yang Tak Terduga"*
(Penyoe_Poenya) 🌿🐢📌🍁🎖
0 Komentar