Dalam dentang perang dan debu gurun yang membakar, ada nama yang terukir bukan sebagai yang pertama, tetapi sebagai yang menentukan. Yusa' bin Nun. Namanya mungkin tidak sebesar Musa yang membelah laut, tetapi doanyalah yang membelah langit dan menahan sang surya dari perjalanannya. Ia adalah sang penerus, murid yang setia yang menempa jiwanya dalam kesabaran. Ia adalah satu dari dua orang yang, dalam Al-Qur'an, digambarkan sebagai pilar keyakinan di tengah bangunan ketakutan yang runtuh.
Allah SWT berfirman yang artinya:
قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِيْنَ يَخَافُوْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوْا عَلَيْهِمُ الْبَابَۚ فَاِذَا دَخَلْتُمُوْهُ فَاِنَّكُمْ غٰلِبُوْنَ ەۙ وَعَلَى اللّٰهِ فَتَوَكَّلُوْٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
"Berkatalah dua orang laki-laki yang takut (kepada Allah) yang Allah beri nikmat atas keduanya, 'Masuklah ke atas mereka melalui pintu gerbangnya. Jika kalian memasukinya, niscaya kalian akan menang. Dan bertawakkallah hanya kepada Allah, jika kalian benar-benar orang yang beriman.'" (QS. Al-Ma'idah: 23)
Para Mufassirin seperti Ibnu Katsir dan As-Sa'di menegaskan bahwa kedua orang pemberani ini adalah Yusa' bin Nun dan Kaleb bin Yefune. Di saat seluruh Bani Israel gemetar ketakutan di ambang pintu Tanah Suci, terpana oleh kekuatan musuh yang perkasa, hanya dua suara ini yang berdiri bagai gunung yang kukuh. Mereka adalah minoritas yang yakin bahwa kemenangan datang dari Allah, bukan dari jumlah pasukan. Momen inilah yang mengukir takdir Yusa'. Allah memilihnya—sang pemberani di tengah lautan pengecut—untuk menerima estafet kepemimpinan setelah wafatnya Nabi Musa.
Lalu tibalah puncaknya, sebuah adegan yang membuat malaikat pun berhenti sejenak menyaksikan. Rasulullah SAW mengisahkan mukjizatnya dalam sabda yang agung:
غزا نبيٌّ من الأنبياءِ ، فقال لقومِه : لا يتبعُني رجلٌ قد ملك بُضعَ امرأةٍ ، وهو يُريدُ أن يبنيَ بها ولمَّا يبْنِ بها ولا آخرُ قد بنَى بنيانًا ولمَّا يرفَعْ سقفَها ، ولا آخرُ قد اشترَى غنمًا أو خلِفاتٍ ، وهو مُنتظِرٌ وِلادَها ، قال : فغزا ، فأدنَى للقريةِ حين صلاةِ العصرِ ، أو قريبًا من ذلك ، وفي روايةٍ : فلقي العدوَّ عند غيبوبةِ الشَّمسِ ) ، فقال للشَّمسِ : أنت مأمورةٌ وأنا مأمورٌ ، اللَّهمَّ احبِسْها عليَّ شيئًا ، فحُبِست عليه ، حتَّى فتح اللهُ عليه
"Salah seorang Nabi Allah berperang. Ia berkata kepada kaumnya : "Janganlah mengikutiku seorang laki-laki yang telah memiliki seorang wanita (baru menikah), dan dia ingin berhubungan badan dengannya tetapi belum melakukannya; dan jangan pula orang yang telah membangun bangunan tetapi belum memasang atapnya; dan jangan pula orang yang telah membeli kambing atau unta yang sedang hamil, dan dia sedang menunggu kelahirannya." Maka ia mengepung suatu negeri pada waktu Dhuha dan berkata: 'Wahai matahari, sesungguhnya engkau diperintah dan aku pun diperintah. Ya Allah, tahanlah ia untuk kami.' Maka ditahanlah matahari itu hingga Allah memberikan kemenangan untuknya."
(HR. Muslim no. 1747)
Ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah bersepakat bahwa nabi yang dimaksud adalah Yusa' bin Nun. Bayangkan! Senja hampir tiba, bayangan panjang mulai menyapu bumi, dan kemenangan yang didamba bisa sirna oleh gelapnya malam. Tapi Yusa' tahu kepada siapa ia harus meminta. Ia tidak meminta pedang yang lebih tajam atau tentara yang lebih banyak. Ia meminta waktu. Ia meminta cahaya. Ia meminta matahari untuk berhenti. Dan dengan kuasa Allah, matahari itu pun menahan nafasnya, menangguhkan kepulangannya ke peraduan, menyaksikan hamba-Nya yang beriman meraih takdir kemenangannya.
Dari sudut pandang psikologi, tindakan Yusa' menunjukkan puncak dari apa yang disebut internal locus of control; keyakinan bahwa pusat kendali sejati ada pada diri yang terhubung dengan Yang Maha Tinggi. Ketakutan Bani Israel berasal dari external locus of control; mereka melihat musuh sebagai kekuatan luar yang tak tertandingi. Yusa' melihatnya berbeda. Ia melihat segala sesuatu berjalan di bawah pengaturan Allah. Keberaniannya lahir dari sebuah kesadaran spiritual yang dalam, bahwa tidak ada yang mustahil selama kehendak Allah mengizinkannya.
Renungkanlah ini untuk diri kita sendiri. Berapa sering kita, dalam pertempuran hidup kita yang kecil—dalam deadline yang menghimpit, dalam masalah yang seolah tak ada ujungnya—berperilaku seperti Bani Israel? Kita melihat jam yang terus berdetak, hari yang semakin senja, dan kita menyerah sebelum berperang. Kita lupa bahwa kita adalah anak cucu dari spiritualitas Yusa' bin Nun, yang diajarkan untuk tidak pernah melihat waktu sebagai musuh, tetapi sebagai alat yang dipegang oleh Tangan Yang Maha Pengasih.
Masalahmu mungkin tidak membutuhkan matahari untuk berhenti, tetapi hatimu pasti membutuhkan sepercik keyakinan Yusa'. Keyakinan bahwa ketika kamu bersungguh-sungguh berjalan menuju gerbang mimpimu dengan tawakal, maka kamu tidak berjalan sendirian. Bahkan matahari pun bisa diperintahkan untuk memberimu lebih banyak cahaya. Jadi, hadapilah. Dan dalam doamu, katakan dengan yakin, "Wahai Pemilik Waktu, tahanlah untukku. Berikan aku cahaya hingga aku menyelesaikan tugasku, hingga aku meraih kemenanganku."
Karena selama matahari masih terbit setiap pagi, itu adalah tanda bahwa janji-Nya selalu benar. Dan pertolongan-Nya selalu lebih dekat dari yang kita kira. Wallahu a'lam...
(Penyoe_Poenya) 🌿🐢📌🍁🎖
0 Komentar