Kekuatan Sejati adalah Senyum dan Syukur : Renungan dari Lembah Semut


فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

"Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa mendengar perkataan semut itu. Dan dia berdoa, 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.'" (QS An-Naml: 19)


***

Sebuah pasukan kolosal, gabungan dari jin, manusia, dan burung, berbaris dalam formasi sempurna di bawah komando seorang raja. Ini adalah puncak kekuasaan duniawi, sebuah simbol kejayaan yang mungkin membuat pemegangnya mabuk kepayang. Namun, sejarah tidak mencatat Sulaiman tenggelam dalam puja-puji atas pasukannya. Justru, di puncak kekuasaan itu, detik paling menentukan terjadi di sebuah lembah semut. Kekuatan sejati bukanlah pada gemuruh pasukan, tetapi pada keheningan seorang pemimpin yang mampu mendengar bisikan lembut dari tanah, peringatan penuh kasih dari seekor semut kepada kaumnya: "Masuklah ke sarangmu, jangan sampai kamu diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari."


Kalimat terakhir itu adalah mahakarya diplomasi dan empati tingkat tinggi. Sang semut, makhluk yang rentan, tidak menuduh atau membenci. Ia memahami bahwa raksasa yang lalu itu mungkin tak sadar akan keberadaannya. Dari sudut pandang psikologi sosial, ini adalah pelajaran tentang menghindari fundamental attribution error—kecenderungan untuk menyalahkan karakter orang lain atas sebuah musibah, alih-alih melihat faktor situasi. Sang semut mengajarkan kita untuk tidak mudah tersinggung dan berprasangka buruk. Ia membaca "ketidaksengajaan" sebagai sebuah fakta, bukan kesalahan.


Lalu, respon Sulaimanlah yang mengubah narasi kekuasaan selamanya. Dia tidak tersinggung, tidak marah karena kerajaannya dianggap sebagai ancaman. Sebaliknya, dia tersenyum dan tertawa. Dalam tawa itu, terkandung kerendahan hati, kekaguman pada kebijaksanaan alam, dan rasa syukur yang mendalam. Di sini, psikologi kekuasaan menemukan antitesisnya. Biasanya, kekuasaan cenderung kaku, arogan, dan takut direndahkan. Tawa Sulaiman justru adalah pembebasan. Itu adalah tanda jiwa yang sehat, yang mampu menemukan kegembiraan bukan dari pujian, tetapi dari kesadaran akan keagungan ciptaan Allah yang lebih kecil. Tawa itu adalah dekonstruksi keangkuhan.


Dan dari tawa itulah lahir sebuah doa yang paling sublim. Doa ini adalah fondasi etika dari setiap pemegang amanah. Dalam perspektif politik, doa Sulaiman adalah tameng paling ampuh melawan korupsi dan penyalahgunaan wewenang. Dia tidak meminta tambahan harta, perluasan wilayah, atau penaklukan baru. Dia justru memohon sesuatu yang lebih dalam: "Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukurimu nikmat-Mu." Ini adalah pengakuan bahwa nikmat terbesar bukanlah kerajaan itu sendiri, tetapi kemampuan untuk mensyukurinya. Seorang pemimpin yang syukur akan menggunakan kekuasaannya untuk berbuat adil, melayani, dan memakmurkan, bukan menindas. Dia meminta kemampuan untuk beramal shaleh, karena amal adalah bukti nyata dari syukur yang hidup. Dan puncaknya, dia meminta untuk digolongkan ke dalam hamba-hamba-Mu yang shaleh. Sebuah permintaan yang merendah, mengisyaratkan bahwa gelar "raja" atau "pemimpin" tidaklah berarti apa-apa dibandingkan gelar ‘abduka ash-shalih—hamba-Mu yang shaleh.


Dalam konteks sosial, kisah ini adalah pelajaran tentang mendengar suara-suara lembut. Sebuah masyarakat yang sehat bukanlah yang hanya mendengar gemuruh suara mayoritas atau kelompok kuat, tetapi juga yang memiliki kepekaan untuk mendengar "suara semut"—kelompok minoritas, marginal, dan rentan yang seringkali tak terlihat. Seorang pemimpin sejati adalah seperti Sulaiman, yang telinga hatinya cukup sensitif untuk menangkap jeritan sunyi yang bisa terinjak oleh roda kekuasaannya sendiri.


Mungkin kita semua adalah Sulaiman dalam skala kita masing-masing. Memiliki sedikit "pasukan" berupa jabatan, pengakuan, harta, atau kecerdasan. Lalu, di tengah pawai kejayaan kita sendiri, adakah kita cukup rendah hati untuk berhenti sejenak dan mendengar "semut-semut" di sekitar kita? Suara hati nurani, kritik yang halus, atau tangisan orang yang terpinggirkan oleh langkah kita? Dan ketika kita mendengarnya, akankah respon kita adalah tawa arogansi, atau tawa syukur yang kemudian berujung pada doa: "Ya Allah, berilah aku kemampuan untuk bersyukur, dan jadikan aku bagian dari hamba-hamba-Mu yang shaleh." Karena sesungguhnya, takhta sejati seorang hamba bukanlah singgasana, tetapi senyum, syukur, dan doa yang tulus di hadapan Sang Pemilik Segala Kekuasaan. Wallahu a'lam...

(Penyoe_Poenya) 🌿🐢🎖📌

Posting Komentar

0 Komentar