Metafora Kepemimpinan: Ketika Ilmu dan Kekuasaan Berpadu dalam Harmoni


وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا دَاوُۥدَ وَسُلَيْمَـٰنَ عِلْمًۭا ۖ وَقَالَا ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى فَضَّلَنَا عَلَىٰ كَثِيرٍۢ مِّنْ عِبَادِهِ ٱلْمُؤْمِنِينَ

وَوَرِثَ سُلَيْمَـٰنُ دَاوُۥدَ ۖ وَقَالَ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ عُلِّمْنَا مَنطِقَ ٱلطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِن كُلِّ شَىْءٍ ۖ إِنَّ هَـٰذَا لَهُوَ ٱلْفَضْلُ ٱلْمُبِين

Dan sungguh, Kami telah memberikan ilmu kepada Dawud dan Sulaiman, dan keduanya berkata, "Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari banyak hamba-hamba-Nya yang beriman." Dan Sulaiman telah mewarisi Dawud, dan dia (Sulaiman) berkata, "Wahai manusia! Kami telah diajari bahasa burung dan kami diberi segala sesuatu. Sungguh, (semua) ini benar-benar karunia yang nyata." (QS. An-Naml : 15-16)


Di tengah gemerlap kekuasaan yang sering kali membutakan, Al-Qur'an menyuguhkan narasi segar tentang hakikat kepemimpinan sejati melalui kisah Nabi Sulaiman dan Daud. Ayat 15-16 Surah An-Naml bukan sekadar bercerita tentang warisan kerajaan megah, melainkan lebih dalam lagi tentang warisan ilmu yang menjadi fondasi setiap kekuasaan yang bermartabat. Daud yang mengajarkan seni kepemimpinan berbasis keadilan, lalu dilanjutkan Sulaiman dengan kemampuan luar biasa memahami bahasa alam - dari burung-burung hingga pasukan jin - menawarkan perspektif politik yang transformatif: bahwa pemimpin sejati adalah yang mampu mendengar suara-suara paling lemah di masyarakatnya, sebagaimana Sulaiman yang memperhatikan ketidakhadiran seekor burung Hud-hud di tengah kemegahan istananya.


Dalam perspektif sosiologis, kemampuan Sulaiman berkomunikasi dengan berbagai makhluk menjadi metafora sempurna bagi pemimpin yang inklusif, mampu menjembatani kesenjangan antara kelompok masyarakat yang berbeda-beda. Realitas Indonesia kontemporer dengan polarisasi pasca-pemilu dan fragmentasi sosial menemukan relevansinya yang menakjubkan dalam kisah ini - betapa kepemimpinan yang arif tidak memilih-milih audiens, tetapi justru aktif mendengar mereka yang sering kali tak terdengar. Ibn Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa mukjizat kemampuan berkomunikasi dengan makhluk lain ini adalah simbol dari kepemimpinan yang memahami keragaman sebagai anugerah, bukan ancaman.


Dari kacamata hukum, warisan kerajaan Sulaiman yang dibangun di atas fondasi ilmu menantang paradigma kekuasaan modern yang sering kali memisahkan antara otoritas politik dan otoritas keilmuan. Di tengah maraknya kebijakan publik yang terkesan reaktif dan kurang kajian mendalam, kisah Sulaiman mengingatkan kita bahwa legitimasi kekuasaan tidak hanya berasal dari mandat konstitusional, melainkan juga dari kedalaman ilmu yang dimiliki. Terlebih jika konstitusi direkayasa oleh kekuasaan untuk tujuan membuka peluang kepemimpinan baru yang diinginkan. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menekankan bahwa anugerah kerajaan kepada Sulaiman selalu disandingkan dengan ilmu, menunjukkan bahwa kekuasaan tanpa pengetahuan bagai bangunan megah di atas fondasi rapuh.


Kepemimpinan modern menemukan resonansinya dalam narasi ini ketika kita menyelami bagaimana Sulaiman mengelola kerajaan superkompleks dengan beragam karakter tanpa kehilangan fokus pada nilai-nilai fundamental. Kemampuan untuk tetap rendah hati di puncak kekuasaan, tetap memperhatikan detail di tengah kemegahan, dan tetap bijaksana dalam mengelola sumber daya yang melimpah - semua ini adalah pelajaran abadi tentang emotional intelligence dalam kepemimpinan. Al-Baghawi dalam tafsirnya menyoroti bagaimana Sulaiman tidak pernah lupa bersyukur atas segala anugerah, menunjukkan kematangan spiritual yang justru semakin diperlukan di era kekuasaan yang rentan terhadap kesombongan.


Mungkin saat ini kita tidak memerlukan pemimpin yang bisa berbicara dengan burung atau memerintah jin, tetapi kita sangat membutuhkan pemimpin yang mampu memahami bahasa rakyat kecil, mendengar keluhan warga marginal, dan mengartikulasikan aspirasi mereka yang tak tersampaikan. Warisan terbesar yang bisa kita petik dari kisah Sulaiman dan Daud adalah kesadaran bahwa kekuasaan tanpa ilmu adalah tirani, kepemimpinan tanpa kebijaksanaan adalah kesia-siaan, dan kerajaan tanpa rasa syukur hanyalah bayangan semu yang akan lenyap ditelan zaman. Sebab, sebagaimana diajarkan oleh dua nabi agung ini, tongkat kekuasaan yang paling kokoh adalah yang diukir dari pohon ilmu dan disirami dengan air kesadaran spiritual bahwa segala otoritas pada hakikatnya adalah amanah ilahi. Wallahu a'lam...

(Penyoe_Poenya) 🌿🐢📌🎖

Posting Komentar

0 Komentar