وَّسَخَّرْنَا مَعَ دَاوٗدَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَۗ وَكُنَّا فٰعِلِيْنَ ٧٩
... Kami menundukkan gunung-gunung dan burung-burung untuk bertasbih bersama Daud. Kamilah yang melakukannya. (QS. Al-Anbiya : 79)
Di puncak kesunyian malam, ketika langit membentangkan taburan bintang, terdengar sebuah suara yang tidak hanya memenuhi ruangan, tetapi juga menyentuh relung alam semesta. Itulah suara Nabi Daud AS, yang melantunkan ayat-ayat Zabur dengan merdu dan penuh penghayatan. Al-Qur'an mengabadikan mukjizat ini dalam dua ayat yang indah: "Wahai gunung-gunung dan burung-burung! Bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud," (QS. Saba': 10) dan "Kami telah menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) pada waktu petang dan pagi," (QS. Al-Anbiya': 79). Ini bukan sekadar gambaran puitis, melainkan realitas spiritual di mana alam semesta—dengan caranya sendiri—berpartisipasi dalam kekaguman terhadap kekuasaan Ilahi melalui suara seorang nabi yang hatinya bersih.
Para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi menjelaskan bahwa tasbih gunung dan burung ini adalah nyata. Gunung-gunung mengulang-ulang tasbih yang dilantunkan Daud, sementara burung-burung berhenti di udara, ikut melantunkan pujian kepada Allah. Imam Al-Ghazali melihatnya sebagai bukti bahwa seluruh ciptaan memiliki kesadaran untuk menyembah Penciptanya, dan kemurnian hati Daud telah membuka "pintu" yang memungkinkan manusia menyaksikan harmoni ilahi ini. Suara Daud bukan sekadar suara merdu biasa; ia adalah cerminan dari hati yang begitu dekat dengan Tuhannya, sehingga alam pun meresponsnya.
Keistimewaan suara Nabi Daud semakin jelas ketika Rasulullah SAW bersabda tentangnya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi Muhammad SAW bersabda: "Sesungguhnya, Daud diberi keutamaan dalam suara (keindahan suara)." Bahkan, dalam riwayat lain disebutkan bahwa suara Daud memiliki variasi yang sangat mengagumkan. Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya, Daud diberi seruling dari seruling-serulingnya keluarga Daud (mazāmīr āli Dāwūd), dan sesungguhnya ia memiliki suara yang sangat merdu." Beberapa ulama seperti Imam Ahmad dan Ibnu Hibban meriwayatkan bahwa Nabi Daud memiliki 70 varian suara (mizmār) yang berbeda, di mana setiap suara memiliki keunikan dan keindahannya sendiri. Kekayaan variasi suara ini menjadikan lantunan Zaburnya begitu hidup dan penuh makna, seolah-olah alam semesta ikut bernyanyi bersamanya.
Kemuliaan suara Daud ini bahkan diwariskan secara spiritual kepada umat Nabi Muhammad SAW. Suatu ketika, seorang sahabat bernama Abu Musa Al-Asy'ari melantunkan Al-Qur'an dengan suara yang sangat merdu. Rasulullah SAW yang mendengarnya pun terkesima dan bersabda kepadanya: "Sungguh, engkau telah diberikan satu seruling dari seruling-serulingnya keluarga Daud (mizmāran min mamāzīra āli Dāwūd),"" (HR. Bukhari dan Muslim). Pujian Nabi ini bukan hanya pengakuan atas keindahan suara Abu Musa, tetapi juga pengakuan bahwa suara merdu yang digunakan untuk membaca Kitab Allah adalah warisan spiritual dari Nabi Daud. Ini menunjukkan bahwa keindahan suara yang digunakan untuk kebaikan adalah anugerah Ilahi yang patut disyukuri.
Dari perspektif psikologi, kisah ini mengungkap kekuatan suara dan musik sebagai terapi bagi jiwa. Suara merdu yang dilantunkan dengan penuh kekhusyukan—seperti yang dilakukan Daud—dapat menciptakan keadaan flow di mana seseorang sepenuhnya tenggelam dalam kekaguman dan ketenangan. Penelitian modern membuktikan bahwa musik yang harmonis dapat menurunkan stres, menyeimbangkan gelombang otak, dan bahkan mempengaruhi tumbuhan dan hewan. Suara Daud adalah puncak dari sound healing; ia bukan hanya menyembuhkan dirinya sendiri, tetapi juga menyelaraskan alam sekitar karena kemurnian niat dan kedekatannya dengan Allah.
Lalu, apa yang dapat kita renungkan dari kisah ini? Di dunia yang dipenuhi kebisingan—suara gossip, hinaan, dan musik yang seringkali memicu nafsu—kita diajak untuk menggunakan suara kita seperti Daud: untuk berzikir, membaca Kitab Suci, dan mengatakan kebenaran dengan merdu dan lembut. Setiap dari kita memiliki "varian suara" sendiri—baik literal maupun metaforis—yang dapat kita gunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan membawa kedamaian bagi sekitar. Seperti Abu Musa yang diwariskan satu "seruling Daud", kita pun dapat mewarisi spirit itu dengan menggunakan suara kita untuk kebaikan.
Mari kita bertanya: Bagaimana kita menggunakan "suara" kita hari ini? Apakah untuk melantunkan zikir yang menenangkan, atau untuk menyakiti dan membingungkan? Oratorium langit Daud mengajarkan bahwa suara yang ikhlas dan merdu tidak hanya menyentuh manusia, tetapi juga alam semesta. Mungkin kita tidak akan mendengar gunung membalas zikir kita, tetapi yakinlah bahwa hati yang resah akan menjadi tenang, dan langit akan mencatatnya sebagai melodi terindah dalam simfoni ketaatan. Wallahu a'lam...
(Penyoe_Poenya) 🌿🐢📌🎖
0 Komentar